Sebagian
warga menilai kematian ikan-ikan disungai komering tersebut karena air sungai
sudah tercemar akibat dari limbah perusahaan perkebunan di bagian hulu sungai
Komering OKI. “Diketahui ikan-ikan sungai ini mulai mabuk sejak dua minggu yang
lalu, tetapi tidak setiap hari, kadang-kadang hanya satu hari, kemudian lusa
ada lagi, sempat tidak ada lagi yang mabuk sejak tiga hari yang lalu, tetapi
hari ini sudah ada yang mabuk lagi. Mungkin ini akibat dari limbah perusahaan
perkebunan di hulu sungai,” jelas Yudi, warga Kelurahan Mangun Jaya yang juga
ikut menangkap ikan mabuk tersebut.
Lebih lanjut dikatakan Yudi, Awalnya
warga belum mengetahui kalau banyak ikan mabuk disungai yang biasanya digunakan
oleh warga setempat untuk mandi ini, namun alangkah terkejutnya ketika kami
pagi itu hendak mandi kesungai banyak melihat ikan baung sudah mengapung
melihat kondisi tersebut warga langsung pulang dan mengambil peralatan untuk
menangkap ikan seperti jaring.
“Ada bermacam-macam jenis ikan yang
mabuk seperti Ikan Baung, Nila, Bawal dan beberapa jenis ikan lainnya.”jelas
Yudi. Kejadian ini setidaknya membuat sebagian warga merasa senang dan bahagia karena
bisa mendapatkan banyak ikan sehingga tidak perlu lagi membeli kepasar. Namun,
tidak demikian bagi warga yang memiliki kerambah ikan di sepanjang sungai
komering, karena sebelum panen, ikan mereka sudah keburu mati.
Mendapati laporan dari warga prihal
kematian ikan-ikan disungai komering tersebut Kepala Dinas Kelautan dan
Perikanan (DKP) Kabupaten OKI, Abdul Mutholib beserta beberapa perangkatnya
langsung menuju kelokasi dan melakukan pengukuran kualitas air sungai. “Memang kejadian ini sudah berlangsung sejak
dua pekan terakhir tapi tidak setiap hari,” katanya.
Lebih lanjut dikatakannya, dari Hasil
pengukuran air yang dilakukan pihak DKP OKI, bahwa kondisi air sungai Komering
saat ini dalam keadaan keruh karena air memang sedang naik.” Dengan demikian
zat-zat kimia di perairan umum seperti sungi komering ini sangat banyak,
sehingga oksigen dalam air tersebut berkurang, dengan demikian ikan mengalami
kekurangan oksigen,” ungkapnya.
Menurut Abdul Muthalib, matinya ikan-ikan
itu bukan semata-mata akibat dari PH (keasaman) air turun, tetapi juga akibat
DO dan Oksigenya turun.” PH air setelah kita ukur hanya 5,5 padahal
normalnya 6,8-8,7. Kemudian DO hanya 1,8 ppm padahal standarnya 3,5-6 ppm, hal
inilah yang membuat ikan banyak yang mabuk,” ujarnya.
Dengan kondisi air sungai seperti
itu, kata Abdul Muthalib, Suspensi atau tingkat kekeruhan air sangat tinggi,
hal ini akibat dari reaksi fisicel kimia yang tinggi, dengan demikian
harus berbagi dengan Ikan, akibatnya DO berkurang.” Dalam situasi seperti ini
sebenarnya kita sangat dirugikan karena ikan banyak yang mati, tetapi ini
akibat dari kondisi alam, mengenai kualitas air itu tercemar atau tidak itu
tugas dari Badan Lingkungan Hidup (BLH),” terangnya.
Sementara itu, kepala Bidang (kabid)
Pengkajian Dampak Lingkungan, Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kabupaten OKI,
Husin Asnawi menerangkan, ikan tersebut mati disebabkan Tingkat keasaman (PH)
air sungai cukup tinggi akibat peralihan musim, dari musim kemarau ke musim
Hujan.” Keasaman air sungai yang meningkat akibat dari musim kemarau yang
berubah saat ini hujan turun terus menerus,” katanya.
Karena curah hujan yang
meningkat, menyebabkan air dari rawa-rawa meluap dan semuanya masuk kedalam
sungai.” Saat air rawa itu masuk ke sungai, bukan hanya membawa kotoran tetapi
juga rumput-rumputan, sehingga bisa menyebabkan air sungai tercemar,” Pungkas
Abdul Mutholib.(romi maradona)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar